Selasa, 02 Maret 2010

Stack

STACK


* DEFINISI STACK
Stack adalah suatu bentuk khusus dari linear list di mana operasi penyisipan dan penghapusan atas elemen-elemennya hanya dapat dilakukan pada satu sisi saja yang disebut sebagai “TOP”.
Misal diberikan Stack S sebagai berikut :

S = [ S1, S2, .........., ST ] * maka TOP(S) = ST.

Untuk menunjukkan jumlah elemen suatu stack digunakan notasi NOEL. Dari stack di atas, maka NOEL(S) = T. Selanjutnya, jika diberikan sebuah stack S = [A,B,C,D], maka stack S ini dapat digambarkan sebagai berikut :







* OPERASI DASAR PADA STACK
Ada empat operasi dasar yang didefinisikan pada stack, yaitu :
1. CREATE(stack)
2. ISEMPTY(stack)
3. PUSH(elemen,stack)
4. POP(stack)


* CREATE
Operator ini berfungsi untuk membuat sebuah stack kosong dan didefinisikan bahwa :

NOEL(CREATE(S)) = 0 dan TOP(CREATE(S)) = null



* ISEMPTY
Operator ini berfungsi untuk menentukan apakah suatu stack adalah stack kosong. Operasinya akan bernilai boolean, dengan definisi sebagai berikut :
ISEMPTY(S) = true, jika S adalah stack kosong
= false, jika S bukan stack kosong
atau
ISEMPTY(S) = true, jika NOEL(S) = 0
= false, jika NOEL(S) * 0

Catatan : ISEMPTY(CREATE(S)) = true.



* PUSH
Operator ini berfungsi untuk menambahkan satu elemen ke dalam stack. Notasi yang digunakan adalah :

PUSH(E,S)

Artinya : menambahkan elemen E ke dalam stack S.

Elemen yang baru masuk ini akan menempati posisi TOP.
Jadi : TOP(PUSH(E,S)) = E.
Akibat dari operasi ini jumlah elemen dalam stack akan bertambah, artinya NOEL(S) menjadi lebih besar atau stack menjadi tidak kosong (ISEMPTY(PUSH(E,S)) = false).



* POP
Operator ini berfungsi untuk mengeluarkan satu elemen dari dalam stack. Notasinya :
POP(S)

Elemen yang keluar dari dalam stack adalah elemen yang berada pada posisi TOP. Akibat dari operasi ini jumlah elemen stack akan berkurang atau NOEL(S) berkurang dan elemen pada posisi TOP akan berubah. Operator POP ini tidak dapat digunakan pada stack kosong, artinya :

POP(CREATE(S)) = error condition

Catatan : TOP(PUSH(E,S)) = E


* DEKLARASI STACK PADA BAHASA PEMROGRAMAN
Dalam bahasa pemrograman, untuk menempatkan stack biasanya digunakan sebuah array. Tetapi perlu diingat di sini bahwa stack dan array adalah dua hal yang berbeda. Misalkan suatu variabel S adalah sebuah stack dengan 100 elemen. Diasumsikan elemen S adalah integer dan jumlah elemennya maksimum adalah 100 elemen. Untuk mendeklarasikan stack dengan menggunakan array, harus dideklarasikan pula variabel lain yaitu TOP_PTR yang merupakan indeks dari array. Variabel TOP_PTR ini digunakan untuk menyatakan elemen yang berada pada posisi TOP dalam stack tersebut. Selanjutnya gabungan kedua variabel ini diberi nama STACK_STRUCT. Kemudian didefinisikan bahwa :

NOEL(S) = TOP_PTR
ISEMPTY(S) = TRUE, jika TOP_PTR = 0 dan
FALSE, jika TOP_PTR > 0.

Maka bentuk deklarasinya dalam PASCAL adalah :

TYPE Stack_Struct = Record
Stack : array[1..100] of integer;
TopPtr : integer;
End;
VAR S : Stack_Struct;

Selanjutnya, untuk keperluan operasi PUSH dan POP harus dibuat suatu prosedur tersendiri, yaitu :




PROCEDURE PUSH(Eon : integer);
Begin
If (S.TopPtr < NoelMax) Then Begin
S.TopPtr := S.TopPtr + 1;
S.Stack [S.TopPtr] := Eon
End
Else Overflow_Condition
End;

PROCEDURE POP(Eoff : integer);
Begin
If (S.TopPtr > 0) Then Begin
Eoff := S.Stack[S.TopPtr];
S.TopPtr := S.TopPtr - 1
End
Else Underflow_Condition
End;

Catatan :
Overflow adalah suatu keadaan di mana kita melakukan operasi PUSH terhadap stack dalam keadaan penuh. Underflow adalah keadaan di mana kita melakukan operasi POP terhadap stack kosong. Eon adalah elemen yang akan dimasukkan ke dalam stack dan Eoff adalah elemen yang akan dikeluarkan dari dalam stack.


* PENGGUNAAN/APLIKASI STACK
Logika stack digunakan untuk menyelesaikan berbagai macam masalah. Antara lain digunakan pada compiler, operating system dan dalam program-program aplikasi. Berikut ini tiga buah contoh aplikasi stack, yaitu :

* MATCHING PARENTHESES
Proses ini dilakukan compiler untuk memeriksa kelengkapan tanda kurung yang terdapat pada suatu ekspresi aritmetik. Sedangkan stack di sini digunakan sebagai tempat prosesnya. Algoritma yang digunakan adalah :

1. Elemen-elemen suatu ekspresi aritmetik (string) di-Scan dari kiri ke kanan.
2. Jika ditemukan simbol "(" atau "Left parenthesis", maka simbol tersebut di-push ke dalam stack.
3. Jika ditemukan simbol ")" atau "Right parenthesis", maka isi stack diperiksa.
* Jika stack kosong * terjadi kesalahan.
berarti : ada simbol ")", tetapi tidak ada simbol "(" yang seharusnya mendahului.
* Jika stack tidak kosong * artinya ada pasangannya dan langsung di-POP keluar stack.

Misalkan NEXT CHAR adalah suatu karakter terakhir dalam suatu string. Berikut ini bentuk flowchart (logika proses) yang digunakan pada proses matching ini :




* NOTASI POSTFIX
Bentuk aplikasi stack yang lain adalah mengubah suatu ekspresi aritmatik (string) ke dalam notasi postfix. Notasi postfix ini digunakan oleh compiler untuk menyatakan suatu ekspresi aritmatik dalam bahasa tingkat tinggi (high level language). Stack digunakan oleh compiler untuk mentransformasikan ekspresi aritmatik menjadi suatu ekspresi dalam bentuk/notasi postfix.

Contoh :
Misal diberikan ekspresi aritmatik : A + B ;
Maka bentuknya dalam notasi postfix menjadi : AB+
Urutan (prioritas) dari operator adalah :
1. Perpangkatan (^)
2. Perkalian (*) atau Pembagian (/)
3. Penjumlahan (+) atau Pengurangan (-)


Aturan yang digunakan dalam proses transformasi tersebut adalah :
1. Ekspresi aritmatik yang diberikan di- "Scan" dari kiri ke kanan.
2. Bila simbol yang di-scan adalah "(", maka simbol tersebut di push ke dalam stack.
3. Bila simbol yang di-scan adalah ")", maka seluruh isi stack di pop keluar mulai dari simbol "(" yang pertama ditemukan dalam stack.
4. Bila simbol adalah operator, maka dilakukan perbandingan dulu dengan simbol (operator) yang berada pada posisi top dalam stack.
a. Jika derajatnya setara atau lebih rendah dari simbol yang berada pada posisi top, maka top stack di-pop keluar sebagai output dan simbol yang baru di-push ke dalam stack.
b. Jika derajatnya lebih tinggi dari simbol yang berada pada posisi top, maka simbol (operator) yang di-scan tersebut di-push ke dalam stack.
5. Bila simbol yang di-scan adalah operand, maka simbol tersebut langsung sebagai output.
6. Bila simbol adalah ";" maka seluruh isi stack di-pop sebagai output.

Contoh :
Misal diberikan sebuah ekspresi aritmatik dengan bentuk sbb:

( (A + B) * C / D + E ^ F ) / G ;

Selanjutnya akan dicari bentuk ekspresi diatas dalam notasi postfix.
Proses yang dilakukan dapat digambarkan dalam tabel berikut :

Urutan
Proses 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
Simbol
Yang di
Scan

(

(

A

+

B

)

*

C

/

D

+

E

^

F

)

/

G

;
Top ( ( ( + + ( * * / / + + ^ ^ / /
( ( ( ( ( ( ( ( ( ( + +
( ( ( (
Output A B + C * D / E F ^+ G /


Jadi ekspresi aritmatik : ( ( A + B ) * C / D + E^F ) / G ;
dalam notasi postfix menjadi : AB+D*C/EF^+G/

* PROSES REKURSIF

Stack juga dapat digunakan untuk menelurusuri suatu program atau procedure yang rekursif.

Berikut ini sebuah contoh yang menyelesaikannya menggunakan proses rekursif.

Persoalan :
Agar diperoleh uang sebanyak 1.000.000 rupiah pada 25 tahun yang akan datang, berapakah banyak uang yang harus didepositokan saat ini. dianggap bahwa tingkat bunga tidak berubah selama 25 yahun yaitu sebesar 8% per_tahun.

Penyelesaian :
Untuk menyelesaikan masalah ini akan digunakan logika stack yatiu :
- pada tahun ke-25 jumlah uang = Rp. 1.000.000,-
- pada tahun ke-24 jumlah uang = Rp. 1.000.000 / (1 + 0.8)
- pada tahun ke-23 jumlah uang =
.
dst

Berikut ini sebuh program PASCAL yang mengandung suatu procedure rekursif untuk menghitung jumlah uang diinginkan.

PROGRAM DEPOSITO ;
CONST Goal = 1000000;
Rate = 0.08;
VAR Ju : Real;
Thn: Integer;

PROCEDURE Hitung (VAR Thn : Integer);
BEGIN
IF (Thn > 0) THEN
BEGIN
Ju := Ju/(1.0 + Rate);
Thn := Thn - 1;
Hitung(Thn);
END;
END;
BEGIN
Thn := 25;
Ju := Goal;
HITUNG(Thn);
WRITE(Ju);
END.
Pemanggilan pertama procedure HITUNG dimana nilai Thn =25



Pemanggilan kedua procedure HITUNG dimana nilai Thn = 24



Pemanggilan ketiga procedure HITUNG, dimana nilai Thn = 23



Setelah 25 kali pemanggilan procedure HITUNG keadaan stack adalah :




* MAPPING KE STORAGE DARI STACK
Bentuk mapping ke storage dari stack yang paling sederhana adalah dengan menggunakan pendekatan array satu dimensi. Hal ini karena sarana yang digunakan untuk menyatakan suatu stack adalah array.
Jika diberikan stack S dengan m elemen maka bentuk mappingnya seperti mapping array satu dimensi dengan m elemen.



Selanjutnya jika terdapat dua stack S1 dan S2 masing-masing dengan jumlah maksimum elemennya adalah M dan N, maka kedua stack ini dialokasikan dalam dengan bentuk sbb:



Konsep mapping seperti diatas dianggap tidak efisien, terutama jika S1 dan S2 tidak penuh pada saat yang bersamaan.

Cara dianggap lebih baik adalah :
Jika diketahui bahwa jumlah elemen S1 dan S2 tidak melebihi jumlah tertentu, misal N.

NOEL(S1) + NOEL(S2) <= N







Maka bentuk mapping yang digunakan adalah :











Rabu, 24 Februari 2010

auditing

Most colleges permit auditing in their courses. As an auditor, you enroll in, pay tuition and fees for, and attend classes but do not complete assignments or take examinations. You receive no credit for the course, but the course will be placed on your transcript with the symbol V (Visitor) to indicate your special registration status. Although you do not receive credit, the credit value for the course counts in determining the credit total for the student services fee.

Colleges may have additional requirements for you to meet before you register as an auditor. It may be necessary to have approval from your adviser, instructor, and/or special scholastic committees. Many colleges do not permit registration as an auditor in required courses. For further information, check with your college office.

To register as an auditor once you have received any necessary approvals, select the AUD option from the drop down menu when registering online. If registering in person, by mail, or by fax, place a V in the grading basis column for that course on your Registration and Cancel/Add form.

peraturan pajak

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR 6/PJ/2009

TENTANG

TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN
DALAM BENTUK ELEKTRONIK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Menimbang:
bahwa dalam rangka memperlancar penatausahaan pelaporan pajak yang diadministrasikan pada Kantor Pelayanan Pajak Madya termasuk Kantor Pelayanan Pajak di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus dan Kantor Pelayanan Pajak di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Dalam Bentuk Elektronik;

Mengingat:
  1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4740);
  2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 181/PMK.03/2007 tentang Bentuk dan Isi Surat Pemberitahuan, serta Tata Cara Pengambilan, Pengisian, Penandatanganan, dan Penyampaian Surat Pemberitahuan;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan:

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN DALAM BENTUK ELEKTRONIK.

Pasal 1
Dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan:
  1. Kantor Pelayanan Pajak yang selanjutnya disebut KPP adalah Kantor Pelayanan Pajak Madya termasuk Kantor Pelayanan Pajak di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus dan Kantor Pelayanan Pajak di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar.
  2. Wajib Pajak adalah Wajib Pajak yang terdaftar di KPP sebagaimana dimaksud pada angka 1.
  3. Surat Pemberitahuan yang selanjutnya disebut SPT adalah Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan, Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan, dan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai.
  4. e-SPT adalah data SPT Wajib Pajak dalam bentuk elektronik yang dibuat oleh Wajib Pajak dengan menggunakan aplikasi e-SPT yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
  5. e-Filing adalah suatu cara penyampaian SPT atau Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan yang dilakukan secara on-line yang real time melalui Penyedia Jasa Aplikasi atau Application Service Provider (ASP).
  6. Penyampaian SPT dalam bentuk elektronik yang selanjutnya disebut penyampaian e-SPT adalah Penyampaian SPT ke KPP dalam bentuk media elektronik.
Pasal 2
(1)Wajib Pajak wajib menyampaikan SPT dalam bentuk elektronik (e-SPT).
(2)Saat dimulainya penyampaian e-SPT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Bagi Wajib Pajak yang telah ditetapkan terdaftar di KPP berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak yang berlaku sebelum Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini ditetapkan, terhitung sejak tanggal 1 Juli 2009.
  2. Bagi Wajib Pajak yang ditetapkan terdaftar di KPP berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak yang berlaku setelah berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, terhitung sejak awal bulan keenam setelah bulan Wajib Pajak ditetapkan.
(3)Wajib Pajak yang dalam menyampaikan SPT:
  1. tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2); atau
  2. memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tetapi tidak melampirkan keterangan dan/atau dokumen lain yang harus dilampirkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,
dianggap tidak menyampaikan SPT dan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan.
(4)Wajib Pajak dapat menyampaikan e-SPT sebelum tanggal yang ditentukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila dikehendaki oleh Wajib Pajak.
Pasal 3
(1)Penyampaian e-SPT oleh Wajib Pajak ke KPP tempat Wajib Pajak terdaftar dapat dilakukan:
  1. secara langsung atau melalui pos/perusahaan jasa ekspedisi/kurir dengan bukti pengiriman surat dengan membawa atau mengirimkan formulir Induk SPT Masa PPh dan/atau SPT Masa PPN dan/atau SPT Tahunan PPh hasil cetakan e-SPT yang telah ditandatangani dan file data SPT yang tersimpan dalam bentuk elektronik serta dokumen lain yang wajib dilampirkan; atau
  2. melalui e-Filing sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
(2)Penyampaian e-SPT dilaksanakan dengan prosedur sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran yang tak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
Pasal 4
(1)Pembetulan atas SPT yang telah disampaikan dalam bentuk elektronik (e-SPT), wajib disampaikan dalam bentuk elektronik (e-SPT).
(2)Pembetulan atas SPT yang telah disampaikan dalam bentuk kertas (hardcopy), dapat disampaikan dalam bentuk elektronik (e-SPT) atau dalam bentuk bentuk kertas (hardcopy).
Pasal 5
Bagi Wajib Pajak yang telah menyampaikan SPT dalam bentuk elektronik (e-SPT) sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini tetap menyampaikan SPT dalam bentuk elektronik.

Pasal 6
Tata cara penyampaian Surat Pemberitahuan dalam bentuk digital atau elektronik yang tidak sesuai dengan ketentuan ini dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 7
Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.


Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.



Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 20 Januari 2009
DIREKTUR JENDERAL,

ttd.

DARMIN NASUTION
NIP 130605098

Standar Auditing Internasional (ISA) versus Standar Auditing Indonesia (SPAP)

International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB) adalah merupakan badan yang dibentuk oleh International Federation of Accountants (IFAC) sebagai badan pembuat standar auditing dan assurance.

Standar yang diterbitkan oleh IAASB terbagi dalam tiga kategori. Pertama, standar audit dan review informasi keuangan historis. Standar ini terdiri dari dua standar yaitu : International Standard on Auditings (ISAs), dan International Standard on Review Engagement (ISREs). Selanjutnya, untuk membantu penerapan standar auditing, IAASB mengeluarkan International Auditing Practice Statement (IAPSs). IAPS ini merupakan pedoman interpretasi dan bantuan praktis di dalam menerapkan standar auditing. Dan untuk penerapan standar review, IAASB juga telah mengeluarkan pedoman interpretasi dan batuan praktisnya. Pedoman ini diberi nama International Review Engagement Practice Statement (IREPSs).

Kategori kedua, standar untuk penugasan assurance selain audit atau review laporan keuangan historis. Untuk kategori kedua ini, IAASB mengeluarkan International Standard Assurance Engagements (ISAEs). Dan untuk penerapan lebih praktisnya, IAASB telah menerbitkan International Assurance Engagement Practice Statements (IAEPS). IAEPS ini merupakan pedoman interpretasi dan bantuan praktis didalam menerapkan standar assurance.

Kategori terakhir adalah standar untuk jasa lainnya. Untuk kategori ketiga ini, IAASB menerbitkan International Standard on Related Services (ISRSs). Standar ini harus diterapkan pada penugasan kompilasi, pengolahan informasi, dan jasa penugasan lain. Untuk penerapannya, IAASB juga telah mengeluarkan pedoman interpretasi dan bantuan praktis yang diberi nama International Related Service Practice Statements (IRSPSs).

Selain mengeluarkan standar untuk pekerjaan auditor, IAASB juga mengeluarkan standar untuk memberikan mutu pelayanan yang baik. Standar ini dinamakan International Standard on Qualitiy Controls (ISQCSs).

Di Indonesia, sebelum terbentuknya Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), standar auditing ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia-Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP). Setelah terbentuknya IAPI yang secara resmi diterima sebagai anggota asosiasi yang pertama oleh IAI pada tanggal 4 Juni 2007 serta diakui oleh pemerintah RI sebagai organisasi profesi akuntan publik yang berwenang melaksanakan ujian sertifikasi akuntan publik, penyusunan dan penerbitan standar profesional dan etika akuntan publik, serta menyelenggarakan program pendidikan berkelanjutan bagi seluruh akuntan publik di Indonesia melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008 pada tanggal 5 Pebruari 2008, selanjutnya standar auditing berupa Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) disusun dan diterbitkan oleh IAPI.

SPAP merupakan kodifikasi berbagai pernyataan standar teknis dan aturan etika. Pernyataan standar teknis yang dikodifikasi dalam SPAP terdiri dari :

  1. Pernyataan Standar Auditing
  2. Pernyataan Standar Atestasi
  3. Pernyataan Jasa Akuntansi dan Review
  4. Pernyataan Jasa Konsultasi
  5. Pernyataan Standar Pengendalian Mutu

Sedangkan aturan etika yang dicantumkan dalam SPAP adalah Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik yang dinyatakan berlaku oleh Kompartemen Akuntan Publik sejak bulan Mei 2000.

Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang berlaku di Indonesia selama ini mengacu pada standar auditing dari Amerika. SPAP ini membagi standar auditing menjadi tiga bagian utama yaitu Standar Umum, Standar Pekerjaan Lapangan dan Standar Pelaporan.

Sedangkan International Standar on Auditing (ISA) tidak membagi standar auditing dengan kategori seperti halnya SPAP. Pada ISA, tidak ada Standar Umum, Standar Pekerjaan Lapangan dan Standar Pelaporan. Penyajian standar-standar yang ada di ISA sudah mencerminkan proses pengerjaan auditing.

Pendekatan pekerjaan audit di ISA dibagi dalam enam tahap. Tahap pertama dimulai dengan persetujuan penugasan (agreement of engagement). Kemudian, tahap kedua melakukan pengumpulan informasi, pemahaman bisnis dan sistim akuntansi klien, serta penentuan unit yang akan diaudit. Tahap ketiga adalah pengembangan strategi audit. Hal ini dilakukan dengan memperhatikan access inherent list.

Tahap selanjutnya adalah execute the audit, yaitu mulai melaksanakan audit. Pada saat melaksanakan audit maka akan dilakukan test of control, substantive and analytical procedure dan other substantive procedure. Tahap kelima, mulai membentuk opini. Dan tahap terakhir adalah membuat laporan audit.

Dari keenam tahapan pekerjaan audit yang diatur dalam ISA tersebut sepertinya tidak jauh berbeda dengan pengaturan dalam SPAP yang menjadi pedoman audit bagi KAP di Indonesia. Demikian sedikit gambaran International Standar on Auditing (ISA) yang merupakan standar audit internasional dibandingkan dengan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang merupakan standar audit yang berlaku di Indonesia.

Sumber : Media Akuntansi Edisi 49/Tahun XII/September 2005 dan SPAP


source:http://hardijma.wordpress.com/2008/05/17/standar-auditing-internasional-isa-versus-standar-auditing-indonesia-spap/

auditing

AUDITING
Auditing proses sistematik dengan
tujuan untuk mendapatkan dan
mengevaluasi fakta yang berkaitan
dengan asersi mengenai kejadian dan
tindakan ekonomi untuk memastikan
kesesuaian antara asersi dengan kriteria
yang ditetapkan dan mengkomunikasikan
hasilnya kepada pemakai yang
berkepentingan.
INTERNAL AUDITS
Internal auditing: fungsi penilai independen yang
dibentuk dalam organisasi untuk menguji dan
mengevaluasi aktivitas-aktivitas dalam organisasi IIA
(Institute of Internal Auditors), yang dilakukan:
Pemeriksaan keuangan
Evaluasi efisiensi operasi
Review kepatuhan (Compliance)
Mendeteksi kecurangan
Pemeriksaan IT
Sertifikasi:
CIA (Certified Internal Auditor)
Standar, pedoman dan sertifikasi dikelola oleh: IIA
Internal Auditor
Bertanggung jawab kepada direktur
Menjalankan fungsi internal control
Membantu organisasi dalam pengukuran
dan evaluasi:
– Efektivitas internal controls
– Pencapaian tujuan organisasi
– Ekonomis & efisiensi aktivitas
– Compliance with laws and regulations
Operational audit

auditory processing disorder

Auditory Processing Disorder in Children

On this page:

What is auditory processing?

Auditory processing is a term used to describe what happens when your brain recognizes and interprets the sounds around you. Humans hear when energy that we recognize as sound travels through the ear and is changed into electrical information that can be interpreted by the brain. The "disorder" part of auditory processing disorder means that something is adversely affecting the processing or interpretation of the information.

Children with APD often do not recognize subtle differences between sounds in words, even though the sounds themselves are loud and clear. For example, the request "Tell me how a chair and a couch are alike" may sound to a child with APD like "Tell me how a couch and a chair are alike." It can even be understood by the child as "Tell me how a cow and a hair are alike." These kinds of problems are more likely to occur when a person with APD is in a noisy environment or when he or she is listening to complex information.

APD goes by many other names. Sometimes it is referred to as central auditory processing disorder (CAPD). Other common names are auditory perception problem, auditory comprehension deficit, central auditory dysfunction, central deafness, and so-called "word deafness."

Top

What causes auditory processing difficulty?

We are not sure. Human communication relies on taking in complicated perceptual information from the outside world through the senses, such as hearing, and interpreting that information in a meaningful way. Human communication also requires certain mental abilities, such as attention and memory. Scientists still do not understand exactly how all of these processes work and interact or how they malfunction in cases of communication disorders. Even though your child seems to "hear normally," he or she may have difficulty using those sounds for speech and language.

The cause of APD is often unknown. In children, auditory processing difficulty may be associated with conditions such as dyslexia, attention deficit disorder, autism, autism spectrum disorder, specific language impairment, pervasive developmental disorder, or developmental delay. Sometimes this term has been misapplied to children who have no hearing or language disorder but have challenges in learning.

Top

What are the symptoms of possible auditory processing difficulty?

Children with auditory processing difficulty typically have normal hearing and intelligence. However, they have also been observed to

  • Have trouble paying attention to and remembering information presented orally
  • Have problems carrying out multistep directions
  • Have poor listening skills
  • Need more time to process information
  • Have low academic performance
  • Have behavior problems
  • Have language difficulty (e.g., they confuse syllable sequences and have problems developing vocabulary and understanding language)
  • Have difficulty with reading, comprehension, spelling, and vocabulary

Top

How is suspected auditory processing difficulty diagnosed in children?

You, a teacher, or a day care provider may be the first person to notice symptoms of auditory processing difficulty in your child. So talking to your child's teacher about school or preschool performance is a good idea. Many health professionals can also diagnose APD in your child. There may need to be ongoing observation with the professionals involved.

Much of what will be done by these professionals will be to rule out other problems. A pediatrician or a family doctor can help rule out possible diseases that can cause some of these same symptoms. He or she will also measure growth and development. If there is a disease or disorder related to hearing, you may be referred to an otolaryngologist--a physician who specializes in diseases and disorders of the head and neck.

To determine whether your child has a hearing function problem, an audiologic evaluation is necessary. An audiologist will give tests that can determine the softest sounds and words a person can hear and other tests to see how well people can recognize sounds in words and sentences. For example, for one task, the audiologist might have your child listen to different numbers or words in the right and the left ear at the same time. Another common audiologic task involves giving the child two sentences, one louder than the other, at the same time. The audiologist is trying to identify the processing problem.

A speech-language pathologist can find out how well a person understands and uses language. A mental health professional can give you information about cognitive and behavioral challenges that may contribute to problems in some cases, or he or she may have suggestions that will be helpful. Because the audiologist can help with the functional problems of hearing and processing, and the speech-language pathologist is focused on language, they may work as a team with your child. All of these professionals seek to provide the best outcome for each child.

Top

What current research is being conducted?

In recent years, scientists have developed new ways to study the human brain through imaging. Imaging is a powerful tool that allows the monitoring of brain activity without any surgery. Imaging studies are already giving scientists new insights into auditory processing. Some of these studies are directed at understanding auditory processing disorders. One of the values of imaging is that it provides an objective, measurable view of a process. Many of the symptoms described as related to APD are described differently by different people.

Imaging will help identify the source of these symptoms. Other scientists are studying the central auditory nervous system. Cognitive neuroscientists are helping to describe how the processes that mediate sound recognition and comprehension work in both normal and disordered systems.

Research into the rehabilitation of child language disorders continues. It is important to know that much research is still needed to understand auditory processing problems, related disorders, and the best interventions for each child or adult. All the strategies undertaken will need to be suited to the needs of the individual child, and their effectiveness will need to be continuously evaluated. The standard for determining if a treatment is effective is that a patient can reasonably expect to benefit from it.

Top

What treatments are available for auditory processing difficulty?

Much research is still needed to understand APD problems, related disorders, and the best intervention for each child or adult. Several strategies are available to help children with auditory processing difficulties. Some of these are commercially available, but have not been fully studied. Any strategy selected should be used under the guidance of a team of professionals, and the effectiveness of the strategy needs to be evaluated. Researchers are currently studying a variety of approaches to treatment. Several strategies you may hear about include:

  • Auditory trainers are electronic devices that allow a person to focus attention on a speaker and reduce the interference of background noise. They are often used in classrooms, where the teacher wears a microphone to transmit sound and the child wears a headset to receive the sound. Children who wear hearing aids can use them in addition to the auditory trainer.
  • Environmental modifications such as classroom acoustics, placement, and seating may help. An audiologist may suggest ways to improve the listening environment, and he or she will be able to monitor any changes in hearing status.
  • Exercises to improve language-building skills can increase the ability to learn new words and increase a child's language base.
  • Auditory memory enhancement, a procedure that reduces detailed information to a more basic representation, may help. Also, informal auditory training techniques can be used by teachers and therapists to address specific difficulties.
  • Auditory integration training may be promoted by practitioners as a way to retrain the auditory system and decrease hearing distortion. However, current research has not proven the benefits of this treatment.

Array Dan Record

ARRAY dan RECORD
I. Array
Array/Larik adalah struktur data yang mengacu pada sebuah/sekumpulan elemen yang
diakses melalui indeks dan merupakan tipe terstruktur yang mempunyai komponen jumlah
yang tetap dan setiap komponen mempunyai tipe data yang sama. Posisi masing-masing
komponen dalam larik dinyatakan sebagai nomor index.
Setiap elemen larik dapat diakses melalui indeksnya, misalnya mengisi elemen larik yang
ke 3 dengan nilai 100, maka cara mengisinya adalah A[3] ← 100. Contoh Larik bernama A
dengan 8 buah elemen dapat dilihat pada gambar berikut ini :
1 2 3 4 5 6 7 8
Elemen Larik : A[1], A[2], A[3], A[4], A[5], A[6], A[7], A[8]
Indeks Larik : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8
Mengisi elemen larik : A[3] ← 100
Keuntungan struktur data larik adalah :
1. Paling mudah pengoperasiannya
2. Ekonomis dalam pemakaian memori, bila semua elemen terisi
3. Akses ke setiap elemen memerlukan waktu yang sama
Bentuk umum dari deklarasi tipe larik adalah :
type pengenal = array [tipe_index] of tipe;
dengan pengenal : nama tipe data
tipe_index : tipe data untuk nomor index
tipe : tipe data komponen
Parameter tipe_index menentukan banyaknya komponen larik tersebut. Parameter ini
boleh berupa sembarang tipe ordinal kecuali longint dan subjangkauan dari longint.
Sebelum elemen larik dapat dipergunakan, perlu didefinisikan dahulu pada kamus data
sebagai sebagai berikut :
Nama : array [1..400] of string {larik dengan tipe data string}
Panjang : array [a..e] of real {larik dengan tipe data real}
Type TITIK: record
Kurva : array [0..30] of Titik {larik dengan tipe data record}
Hal-hal yang perlu diperhatikan bahwa : Elemen larik harus memiliki tipe data yang sama
atau sejenis (homogen), seperti integer, real, char, string, boolean, record. Artinya larik
tersebut didefinisikan sebagai integer maka nilai yang boleh masuk ke dalam elemen larik
harus bertipe integer. Dan indeks larik harus memiliki tipe data yang menyatakan keterurutan,
seperti integer atau karakter.Sebagai contoh, deklarasi :
type Vek = array [1..100] of integer;
Menunjukkan bahwa Vek adalah tipe data yang berupa larik yang komponennya bertipe
integer dan banyaknya 100 buah.
Deklarasi yang demikian ini disebut deklarasi larik dimensi satu, yang dalam hal ini dapat
disebut vektor. Jika tipe komponen juga berupa sebuah larik lain, akan kita peroleh larik
dimensi banyak. Sebagai contoh, deklarasi :
type Tbl = array [1..100] of array [1..5] of real ;
menunjukkan bahwa Tbl adalah vektor yang terdiri dari 100 komponen, dengan tipe
komponennya adalah sebuah vektor lain yang mempunyai 5 komponen dan bertipe real.
Bentuk ini juga disebut dengan larik dimensi dua, yang dalam hal ini dapat disebut sebagai
tabel atau matrix.
Deklarasi diatas bisa disingkat menjadi :
type Tbl = array [1..100 , 1..5] of real ;
Contoh lain misalnya :
type Ngawur = array [boolean, 1..100, 1..5] of char;
Deklarasi diatas disebut deklarasi larik dimensi 3.
Ada beberapa pemrosesan yang dapat dilakukan terhadap larik. Algoritma yang paling
mudah untuk melakukan pemrosesan yaitu dengan menggunakan bentuk pengulangan For-todo
dengan alasan bahwa elemen larik memiliki indeks yang terurut. Berikut salah satu pola
untuk memproses larik.
Program Proses_Larik
Const : N =10 {jumlah elemen larik}
Indeks : Integer
A : array [1..N] of integer {deklarasi larik A dengan tipe data integer}
Algoritma
For Indeks ← 1 to N do
PROSES LARIK
Proses Larik bisa diganti dengan proses lainnya, misal :
 Mengisi elemen larik dengan 0 (inisialisasi)
 Mengisi elemen larik dari piranti masukan
 Mencetak elemen larik ke piranti keluaran
Proses Larik dapat dimodifikasi untuk proses berikut, misal :
 Mencari bilangan maksimum/minimum pada larik
 Menjumlahkan nilai seluruh elemen larik
 Membuat rata-rata nilai seluruh elemen larik
 Mencari nilai tertentu pada larik
Untuk mengetahui jumlah elemen suatu larik dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut :Panjang = UB – LB + 1
dimana ;
UB : Upper Bound (indeks terbesar)
LB : Lower Bound (indeks terkecil)
Penyimpanan elemen larik di dalam memori komputer disusun berurutan sehingga
komputer tidak perlu menentukan setiap elemen larik tetapi cukup menyimpan alamat
awal/pertamanya. Berikut ini cara menentukan lokasi/alamat elemen larik dengan indeks
tertentu :
LOK(LA[K]) = Awal(LA) + W(K-LB)
dimana;
LOK(LA[K]) : lokasi elemen larik dengan indeks K, yang dicari
K : Indeks larik yang dicari
Awal (LA) : Lokasi awal dari larik
W : Jumlah byte untuk menyimpan 1 elemen larik
LB : Lower Bound / Batas bawah
II. Record
Sama halnya dengan larik, rekaman (record) adalah kumpulan data. Perbedaan antara
larik dengan rekaman adalah bahwa dalam larik semua elemennya harus bertipe sama. Tetapi
dalam rekaman setiap elemen bisa mempunyai tipe data yang berbeda satu sama lain.
Dalam aktivitas sehari-hari pemakaian rekaman lebih banyak digunakan dibanding
dengan larik. Beberapa contoh pemakaian misalnya rekaman data akademis mahasiswa,
rekaman gaji pegawai, persediaan barang dalam gudang dan lain-lain.
Rekaman dapat muncul dalam berbagai bentuk, misalnya informasi yang tertulis pada
kartu dan tersimpan dalam sebuah kotak; sebagai informasi yang diketikkan lewat terminal
komputer dan tersimpan dalam harddisk. Biasanya rekaman-rekaman dalam komputer
tersimpan dalam bentuk berkas (file) yang tak gayut terhadap program yang menggunakannya.
Bentuk umum deklarasi rekaman adalah :
type pengenal = record
medan1 : tipe1;
medan2 : tipe2;
.
.
.
medan3 : tipen
end;
dengan pengenal : pengenal yang menunjukkan tipe data yang akan dideklarasikan
medan1, … , medann : nama medan yang akan digunakan
tipe1, … , tipen : sembarang tipe data yang telah dideklarasikan sebelumnya.
Berikut adalah contoh deklarasi rekaman.Type Tgl_kalender = record
Tanggal : 1..31;
Bulan : 1..12;
Tahun : 1900..2000
end;
Siswa = record
Nama : string [25] ;
Alamat : string [35] ;
Kelamin : (L,P) ;
Kelas : 1..6
end;
Dalam contoh-contoh di atas, rekaman mempunyai medan-medan yang tetap. Ada kalanya
diperlukan suatu bentuk rekaman yang salah satu medannya bisa bervariasi tergantung dari
kebutuhan. Rekaman yang demikian disebut dengan rekaman bebas (variant record).
Bentuk umum rekaman bebas adalah :
Type pengenal = record
{* bagian tetap *}
Medan1 : tipe1;
Medan2 : tipe2;
.
.
.
Medann : tipen;
{* bagian bebas *}
Case tag : tipe_tag of
Label1 : (medan : tipe:
.
.
.
medan : tipe);
Label2 : (medan : tipe:
.
.
.
medan : tipe);
Label3 : (medan : tipe:
.
.
.medan : tipe);end;
end;Perhatikan bahwa tipe data tag bisa langsung ditulis di belakang nama tag field.
Untuk memanipulasi medan pada suatu rekaman, harus ditulis dengan menggunakan
bentuk umum :
nama_rekaman.nama_medan
Notasi di atas disebut penanda medan (field designator). Sebagai contoh, untuk rekaman
bertipe Siswa yang dideklarasikan pada contoh di atas dan deklarasi :
Var Murid : Siswa;
Kita bisa membaca medan Nama dan Alamat menggunakan statemen ;
readln (Murid.Nama) ;
readln (Murid.Alamat) ;
Ada cara yang lebih singkat dari cara di atas, khususnya jika harus mengakses sejumlah
medan dalam saat yang bersamaan. Untuk itu kita bisa menggunakan statemen with.
Bentuk umum statemen with adalah :
with nama_rekaman do
dengan nama_rekaman adalah nama rekaman yang akan diakses.
Dengan menggunakan deklarasi rekaman bertipe Siswa, dan statemen with, maka kita bisa
mengakses rekaman murid sebagai berikut :
with Murid do
begin
readln (Nama);
readln (Alamat);
readln (Kelas);
readln (Kode_Sex);
if Kode_Sex = 1 then Kelamin := L
else Kelamin := P
end;
Cara di atas akan sama hasilnya jika ditulis secara lengkap sebagai berikut :
readln (Murid.Nama);
readln (Murid.Alamat);
readln (Murid.Kelas);
readln (Kode_Sex);
if Kode_Sex = 1 then Murid.Kelamin := L
else Murid.Kelamin := P

source: Book STMIK Balikpapan – Manajemen Informatika
Algoritma & Struktur Data


Blogspot Template by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by ArchitecturesDesign.Com Beautiful Architecture Homes